Senin, 17 September 2012

sghuakhgrkahxekabkj

wegfkaehzmfauhfmoaufhasfhjaflksdg

depresi, dan gak tau harus ditumpahkan kemana, aku terbiasa apa apa bahagia sama dia, jadi cuma dia yang tau gimana aku aslinya, ya sama sih kalau nulis di blog sama aja keliatan orang juga, tapi kan jarang jarang orang liat blog, di twitter? kebanyakan yang punya kacamata sendiri, ngetweet begini, disangka begitu, ngetweet galau ntar dikira aku kelaian sama dia, iya sih, cuman aku gak mau orang tau, aku maunya show the world aku dan dia selalu baik baik aja, dan akhirnya ditumpahkan kesini aja lah, nanti di lap kalau tumpah.

ya kalaupun di twitter aku ada ngetweet yang sedih, itu gak lain gak bukan cuma supaya dia liat sih, kasarnya ngemis perhatian, soalnya sekarang suasana lagi gak mendukung, aku dia tiba tiba berantem karena mempertahankan ego masing masing, hahhh.

aku gak nyalahkan dia, lebih baik nyalahkan diri sendiri, mungkin aku yang terlalu lebay, aku yang terlalu berlebihan nanggapin hal hal kecil gak penting yang terlalu ganggu pikiranku, dari aku diem, sampe ngomong, sampe akhirnya emosi, dia juga ikutan emosi, aaaaaaaa! dulu aku cuek, dan aku bilang gak usah repot, dan sekarang sepertinya semua kebalik, yang berarti dia tau dengan pasti gimana yang aku rasain, gimana kata kata yang dia tau karena aku sayang dia, gak terlalu dianggap, disaat hal hal kecil yang bisa nyes nyes dia lakuin dengan santai, saat semua harga diriku aku hilangkan cuma untuk bisa kembali ke seindah kami yang biasa, gak begitu digubris, dia paham, dia paham dengan semua yang aku rasain saat ini, karena dulu, aku adalah dia di saat ini.

iya ini kalau dibaca pasti lebay, tapi cuma orang galau yang bisa bikin tulisan seperti ini, kebangun tengah malam, gak bisa tidur, mencoba tenang dengan banyaknya pikiran yang mengganggu, dan akhirnya ter argh sendiri, dan dia pasti paham dengan keadaanku saat ini.

aku sama sekali gak pengen ada tulisan seperti ini dalam hidup kami, cukup, gak usah ada lagi, karena kalau ada tulisan begini, berarti kami sedang dalam keadaan yang gak kami banget, halah, begitu lah pokoknya.

masih sama kayak post yang sebelumnya, aku terbiasa menyalahkan diriku sendiri, supaya kami baik baik saja, meredakan semua emosiku agar dia merasa aku sangat menghargai hubungan kami ketimbang emosi yang menghancurkan, mendahulukan dia agar dia merasa dia yang paling aku tunggu, sadar dengan apa yang dia tidak suka dan menjauhinya, dengan segala kesalahanku di masa lalu, aku tunjukkan kalau aku bisa dipercaya, dan aku mencoba sekuatnya untuk bisa menjadi yang terbaik untuk dia.

kadang datang saat saat seperti ini, saat dimana semuanya seperti memberikan aku tekanan dan aku sangat sangat membutuhkan pelukannya, dan kenapa kami masih terjebak dalam keadaan seperti ini?

masalah kampus, masalah dirumah, masalah bla bla lainnya, gak ada yang tau gimana rapuhnya aku tanpa dia, yang aku butuhkan itu pelukan, kata kata yang menenangkan seperti biasa, bukan kata yang setajam pisau.

aku, gak mood karena banyak masalah, jadi emosi, dia karena aku emosi, jadi emosi juga, terus kudu piye T______T dear, I'm not that strong, I'm not strong enough to face it all alone T_______T

saat beberapa hal yang aku gak suka, yang berbeda dengan jalan kita yang dari dulu udah nuntun kita sampai saat ini, aku cerita ke dia baik baik, berharap dia mengerti, dan meleburkan pandangankku dengan pandangannya jadi satu, tapi gak digubris, aku cerita dengan nada agak tinggi, malah tambah parah, dan aku mencoba diam, tapi gimana diam bisa berhasil kalau aku ngomong pun tetap gak ada artinya.

saat kata kataku sudah tidak begitu berarti, apakah aku lebih baik diam dan memperhatikan, berharap dalam diamku, kamu bisa sedikit mengerti, dan aku bisa sedikit lebih berarti.

tapi aku dan dia sama sama paham, masalah apapun itu, buktinya kami bisa bertahan sampai saat ini, mungkin ini cuma emosi sesaat, aku dan dia, terbiasa untuk bahagia.

saat ini, yang paling aku butuhkan tiada lain adalah pelukanmu, sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar